Dalam kultur sepeda motor di Indonesia, mesin 2-tak tidak bisa dilepaskan begitu saja. Sekalipun ada berbagai keluhan, mulai dari polusi udara dan polusi suara, motor itu terekam oleh zaman bagi para pemakainya.
Urusan performa menjadi salah satu alasannya sekalipun campur oli samping juga ritual yang tidak bisa dilepaskan. Hal ini pula yang dirasakan oleh sosok builder motor yang juga punya porsi besar dalam penyelenggaraan Suryanation Motorland, Lulut Wahyudi.
"Mungkin kultur di negara kita lebih melihat mesin 4-tak, apalagi suara, apalagi cc-nya gede ya, memang terasa beda. Namun, untuk orang-orang yang pernah lahir di jalan dan merasakan panasnya nggulung di aspal, mesin 2-tak adalah kerinduan," ujarnya.
Nostalgia soal motor 2-tak ini diungkapkan Lulut usai ditanya soal eksistensi jenis motor ini dalam ajang cutsom Suryanation Motorland. Jumlahnya bisa dibilang kontras jika dibandingkan dengan motor-motor 4-tak.
"Yang jadi pertanyaan, kenapa justru builder tidak meilirik motor 2-tak. Yang dilirik sekarang yang eksotis. Padahal, di luar sana, terutama motor-motor yang langka, 3-silinder, 2-silinder, cc besar-nya 2-tak, seperti 400 cc dan 350 cc, itu banyak yang di-build sedemikian rupa," kata Lulut.
Motor-motor 2-tak di luar negeri itu bahkan bukan hanya dibuat tampil manis, tetapi juga dibuat lebih berperforma. Ia pun berharap, pilihan custom pada ajang Suryanation mendatang bisa diperluas dengan hadirnya motor-motor 2-tak.
sumber otosia.com
