Tampilkan postingan dengan label Berita Lokal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Lokal. Tampilkan semua postingan

Jadi Alat Peneror Novel, Bagaimana Aturan Peredaran Air Keras?



Penyidik KPK Novel Baswedan disiram air keras oleh dua orang pelaku. Akibat kejadian itu, Novel mengalami luka di bagian kelopak mata serta wajah. Jika dilihat dari kategorinya, air keras masuk bahan berbahaya atau disebut B2.

Lantas, jika berbahaya, dari mana pelaku penyiram Novel Baswedan mendapatkan air keras?

Kepala Dinas UMKM dan Perdagangan DKI Jakarta Irwandi mengatakan penjualan air keras di Jakarta beredar dengan mudah di tangan pengecer.

"Penjualan air keras sudah kebablasan. Yang mengecer, itu karena untuk tukang ngelas, reklame. Itu kan pakai air keras. Makanya, pembeliannya bisa bebas," ujar Irwandi kepada detikcom, Selasa (11/4/2017).

Sedangkan di Jakarta, belum ada peraturan gubernur (pergub) yang mengatur secara khusus tentang penjualan ataupun peredaran air keras dan bahan berbahaya lainnya. Aturan soal air keras tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 75 Tahun 2014.

Dalam Permendag tersebut diatur soal produksi, penjualan, dan peredaran bahan berbahaya. Dalam pasal 1 ayat 1 dijelaskan bahwa yang termasuk kategori bahan berbahaya adalah zat, bahan kimia dan biologi, baik dalam bentuk tunggal maupun campuran, yang dapat membahayakan kesehatan atau tidak langsung, yang mempunyai sifat racun (toksisitas), karsinogenik, teratogenik, mutagenik, korosif, dan iritasi.

Perusahaan yang memproduksi bahan berbahaya (P-B2) di dalam negeri harus memiliki izin usaha industri dari instansi yang berwenang. Sedangkan distributor terdaftar (DT-B2) adalah yang ditunjuk oleh produsen bahan berbahaya dan mendapat izin usaha perdagangan khusus dari Dirjen Perdagangan Dalam Negeri (Dirjen PDN). 

Selain produsen dan distributor, Permendag Nomor 75 Tahun 2014 mengatur pengecer bahan berbahaya (PT-B2).

Pengecer adalah perusahaan yang ditunjuk oleh produsen B2 dan/atau distributor B2 dan mendapatkan izin usaha perdagangan khusus B2 dari gubernur. Dalam hal ini ialah Kepala Dinas Provinsi untuk menjual B2 kepada pengguna akhir (PA-B2).

Pengguna akhir bahan berbahaya juga bukan sembarang pihak. Pengguna adalah perusahaan industri yang menggunakan bahan tersebut sebagai bahan baku atau penolong yang diproses secara kimia fisika sehingga terjadi perubahan sifat fisika dan kimianya serta memperoleh nilai tambah dan badan usaha.

Bukan hanya itu, pengguna akhir adalah lembaga yang menggunakan B2 sebagai bahan penolong sesuai dengan peruntukannya yang memiliki izin dari instansi yang berwenang.

Permendag tersebut turut mengatur impor bahan berbahaya. Impor hanya bisa dilakukan melalui pelabuhan laut Belawan di Medan, Dumai di Dumai, Tanjung Priok di Jakarta, Tanjung Emas di Semarang, Tanjung Perak di Surabaya, dan Soekarno-Hatta di Makassar. 


sumber

Dipindah ke Singapura, Penglihatan Novel Baswedan Mulai Membaik




Kondisi penglihatan penyidik senior KPK Novel Baswedan mulai membaik setelah terkena siraman air keras. Penanganan medis lanjutan untuk mata Novel akan dilakukan di rumah sakit di Singapura.

"Kalau angka kemarin itu penglihatannya mata kanan hanya 10%, kiri 5%, tadi sudah hampir 30% meningkatnya tiga kali lipat," kata dokter Johan A Hutauruk yang menangani Novel Baswedan di Jakarta Eye Center (JEC) Jl. Teuku Cik Ditiro, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (12/4/2017).

Menurut Johan, kondisi Novel berdasarkan pemeriksaan terakhir di JEC sangat baik. Novel pada sekitar pukul 09.30 WIB dipindahkan dari JEC untuk menjalani perawatan di Singapura. Novel dijadwalkan terbang dari Bandara Soekarno-Hatta pada pukul 11.30 WIB.

"Ini juga ke Singapura mengakomodir dari keinginan keluarga, sehingga kami dari dokter ikut mendukung lah. Kami fasilitasi ya, kita kontak dokter di sana supaya bisa diterima di sana dengan cepat," imbuh Johan.




Sementara itu Ketua KPK Agus Rahardjo menyebut ada dokter KPK yang akan ikut mendampingi perawatan Novel di Singapura. Seorang pimpinan KPK juga lebih dulu datang mendahului Novel

"Doakan saja semoga kita bisa membawa Pak Novel kembali sembuh seperti sedia kala. Saya juga mengucapkan terima kasih (kepada) dokter atas bantuannya," sebut Agus yang ikut mengantar Novel ke mobil ambulans menuju bandara.

Polisi sudah memeriksa 14 orang saksi teror penyiraman air keras terhadap Novel. Barang bukti dari lokasi kejadian seperti cairan termasuk CCTV milik Novel sudah diamankan.

Serangan terhadap Novel terjadi usai Novel menunaikan salat subuh berjamaah di dekat rumahnya di Jalan Deposito, Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakut pada Selasa (12/4). Guna menghindari teror serupa terulang, Polri berencana menambah pengawalan untuk personel KPK.

Tak Punya Tujuan Jelas, 5 WNA Ditolak Masuk Indonesia

Tak Punya Tujuan Jelas, 5 WNA Ditolak Masuk Indonesia








Jakarta - Kantor Imigrasi(Kanim) Bandara Soekarno-Hatta menolak 5 warga negara asing (WNA) yang hendak masuk ke Indonesia. Mereka ditolak karena tidak memiliki tujuan jelas datang ke Indonesia.

Warga negara asing yang ditolak berasal dari Maroko, Mali-Afrika Barat, Iran, dan dua warga negara Bangladesh. Kelima warga asing itu berinisal RC asal Maroko, MS asal Bamako-Mali, S warga negara Iran, serta M dan MM yang berasal dari Bangladesh.

"Mereka tidak dapat memberikan keterangan yang jelas mengenai maksud dan tujuan kedatangannya ke Indonesia. Maka tindakan keimigrasian adalah menolak kedatangan mereka," ujar Kabag Humas dan Umum Ditjen Imigrasi Agung Sampurno dalam keterangan tertulis, Sabtu (1/4/2017).

Khawatir mereka bisa menimbulkan masalah, maka Kanim memutuskan untuk memulangkan kembali ke emberkasi awal dengan pesawat yang sama. Tindakan itu diambil sebagai langkah preventif keamanan imigrasi Indonesia.

"Tindakan tegas keimigrasian tersebu diambil sebagai upaya pencegahan agar keamanan dan kepentingan nasional dapat terjaga, khususnya gangguan dari orang-orang asing yang tidak bermanfaat," tutup Agung.

Sebelumnya Kanim Bandara Soekarno-Hatta, juga sudah sempat menolak masuk dua orang warga negara China yang masuk Indonesia melalui Batam, Kepulauan Riau. Keduanya telah dipulangkan dengan alat angkut yang sama melalui TPI Batam Center.

Ular Sanca 5 Meter Muncul di Parit Kagetkan Warga Jombang



Jombang - Seekor ular sanca kembang menebar teror kepada warga Desa Ringin Pitu, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang. Ular sepanjang 5 meter sebesar kaki orang dewasa itu akhirnya ditangkap warga setempat.

Ular berukuran jumbo itu diketahui warga berada di parit yang mengalir di Desa Ringin Pitu. Ukurannya yang mencapai kaki orang dewasa, membuat sebagian warga ketakutan. Dibantu pawang ular, mereka nekat menangkap reptil langka itu beramai-ramai.

Ular jenis sanca kembang ini terus berusaha melawan dari pegangan warga. Lima pria yang memegang ular sempat kewalahan dan harus menutup mulut ular agar tidak mengigit. Ular ini mempunyai panjang 5 meter dengan bobot 45 Kg.

Ahmad Fajar (25), warga setempat mengatakan, ular tersebut kemungkinan masuk ke pemukiman penduduk lantaran terbawa arus Sungai Gunting dari habitat aslinya. Memang beberapa hari terakhir, sungai yang berhulu dari kawasan Wonosalam ini sempat meluap sehingga mengakibatkan banjir di Desa Ringin Pitu.

"Ular terdampar ke pemukiman karena terseret arus dan tidak bisa kembali ke habitatnya di kawasan Pegunungan Anjarmoro Wonosalam Jombang," kata kata Fajar kepada wartawan, Selasa (28/3/2017).

Kabar penemuan ular ini mengundang warga lain untuk mendekat. Tidak sedikit warga yang penasaran, menyentuh kulit ular yang warnanya unik dan menarik tersebut. Hewan yang populasinya hampir punah ini menjadi tontonan warga sekitar.

Agara tak melukai warga, ular sanca kembang itu dimasukkan ke dalam kotak besi. "Rencananya ular ini akan dipelihara bersama dan dititipkan di salah satu rumah warga sini," tandas Fajar.

sumber

Unsyiah Aceh Ciptakan Alat Pengolahan Air Tenaga Surya



Banda Aceh - Dosen dan mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala, Aceh, menciptakan alat pengolahan air bertenaga surya. Karya inovasi ini diberi nama Ie Dhiet 1.0.

Rektor Unsyiah Prof Samsul Rizal mengatakan, saat ini masih banyak daerah di Aceh dengan kondisi airnya masih payau, sehingga masyarakat kesulitan memperoleh air bersih. Selain itu, tidak semua desa di Tanah Rencong mendapatkan sumber air dari PDAM.

"Unsyiah hanya memberikan teknologi untuk masyarakat, baik itu yang listriknya tidak ada, sumurnya susah, maupun sumurnya harus dipompa dulu. Inovasi ini diberikan sebagai pengabdian Unsyiah dan untuk menjadi contoh kepada masyarakat," kata Samsul dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Selasa (28/3/2017).

Penciptaan alat semacam ini dinilai sangat penting untuk membantu masyarakat memperoleh air layak untuk dikonsumsi. Rektor sudah meluncurkan karya dosen dan mahasiswa ini pada Senin (27/3) kemarin di halaman kampus FT Unsyiah, Darussalam, Banda Aceh.

Ketua Laboratorium Desain dan Manufaktur FT Unsyiah Muhammad Tadjuddin, ST, MEngSc, mengatakan gagasan menciptakan Ie Dhiet 1.0 ini terinspirasi dari kondisi air di lokasi bencana, seperti Desa Meunasah Jurong, Kabupaten Pidie Jaya, yang kurang layak untuk diminum karena banyak menggandung senyawa Fe (besi).

"Unit pengolahan air sistem bergerak ini cocoknya memang untuk daerah rawan bencana, tapi juga bisa digunakan di daerah lain yang kesulitan mendapatkan air bersih," katanya.

Tadjuddin menjelaskan alat ini bekerja dengan cara tiga kali penyaringan yang filternya terdiri atas zat mangan, karbon aktif, filter 1 mikron, dan filter 3 mikron. Setelah melewati tiga tahap penyaringan dengan menggunakan filter aktif tersebut, air yang dihasilkan bisa digunakan oleh masyarakat. 
Meskipun air yang dihasilkan dapat langsung dikonsumsi, Tadjuddin menegaskan air ini harus tetap dilakukan uji kelayakan di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

"Kalaupun airnya tidak bisa langsung diminum, setidaknya bisa diminum setelah dimasak ataupun sudah bisa digunakan untuk mandi," jelasnya.

Menurutnya, selain untuk pengolahan air bersih, alat ini menyimpan energi listrik dengan daya 220 volt dan fasilitas penerangan 12 volt. Sumber energi mesin berasal dari solar cell. Satu unit alat ini menghabiskan biaya Rp 30-35 juta untuk pembuatannya, dengan masa pengerjaan selama satu bulan.

"Sumber dana pembuatan Ie Dhiet 1.0 berasal dari sumbangan masyarakat Kalimantan Utara untuk korban gempa Pidie Jaya sebesar Rp 10 juta dan selebihnya dari Unsyiah. Rencananya, unit pengolahan air mobile ini akan dibawa ke Pidie Jaya pada Kamis, 30 Maret 2017," terangnya.

Wakil Dekan II FT Unsyiah Dr Zahrul Fuadi, ST, MSc, menambahkan terobosan baru ini harus menjadi pemicu bagi mahasiswa Unsyiah lainnya untuk berkarya, karena salah satu indikator kinerja Unsyiah adalah adanya inovasi. 

Unit pengolahan air mobile ini merupakan inovasi yang kesekian kalinya dari FT Unsyiah. Sebelumnya, FT berhasil menciptakan mobil listrik Malem Diwa dan perahu Katamaran. 

"FT mempunyai 40 laboratorium. Kalau bisa, satu lab melahirkan satu inovasi setiap tahunnya. Fakultas selalu memberikan dukungan penuh untuk menghasilkan sebuah inovasi," kata Zahrul.

sumber

Cerita soal Suku Mante di Aceh, Misteri dan Ajakan Jangan Mengusik



Suku Mante tiba-tiba menjadi viral di internet. Asalnya dari video yang merekam sosok manusia kecil berlari kencang dan menghilang di alang-alang.

Jejak video itu memunculkan dugaan kuat bahwa suku itu eksis di Tanah Rencong. Suku itu memang masih misterius meski dianggap sebagai suku tertua yang mendiami provinsi di ujung barat di Indonesia, yakni Aceh.

"Memang ini adalah salah satu suku yang dianggap sebagai suku tertua orang Aceh," tutur arkeolog dari Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Husaini Ibrahim, kepada detikcom, Senin (27/3) kemarin.

Keberadaan orang Mante di era modern sendiri masih penuh tanda tanya. Kebanyakan hanya berupa kabar kesaksian yang sulit dipercaya atau hanya jejak-jejak mungil di tanah yang ditemukan pelintas.

Namun ada sejumlah wilayah di Tanah Rencong yang pernah menjadi saksi bisu munculnya suku Mante. Kepala Biro Humas Pemerintah Aceh Mulyadi Nurdin mengatakan dulu suku Mante pernah ditemukan di wilayah pedalaman Aceh Besar, Pidie, dan beberapa kabupaten lain yang mempunyai hutan belantara.

"Pedalaman Aceh mulai Aceh Besar dan mentoknya di Aceh Tenggara itu kan tersambung. Dulu juga pernah ditemukan mereka di pedalaman Lokop, Kabupaten Aceh Timur," kata Mulyadi saat ditemui di ruang kerjanya di kantor Gubernur Aceh, Jalan Teuku Nyak Arief, Banda Aceh.

Di Kabupaten Pidie, suku Mante pernah ditemukan di pedalaman Tangse dan Geumpang. Mereka diduga hidup berpindah-pindah tempat dan tinggal di gua-gua. Keberadaan orang pendek lincah ini awalnya dianggap tidak ada.

Untuk membuktikan sosok yang terekam di kamera itu benar-benar suku Mante atau bukan, pemerintah Aceh akan melakukan penelitian. Koordinasi dengan pihak terkait juga akan dilakukan.

"Nanti akan kita bandingkan temuan itu dengan data yang ada sekarang. Mudah-mudahan ada titik temunya," jelas Mulyadi.

Sosok makhluk kecil itu awalnya diunggah oleh akun YouTube atas nama Fredography dengan judul 'HEBOH ! Kaget ada orang telanjang di hutan Aceh', yang diunggah pada 22 Maret lalu. Bila dilihat di kolom komentar, kebanyakan warga internet ingin agar orang-orang Mante tak diusik oleh manusia modern.

"Setidaknya saya salut dgn penggugah video ini untuk tidak menyebutkan TKP secara detail...!! saya mengerti maksud anda!! respect....," kata akun Atto Item.

"Tak perlu mengusiklah.....hai orang modern....kalian emang sukanya mengusik kehidupan orang yg seperti itu...," kata love channel.

Arkeolog Husaini Ibrahim pun menyebut sifat suku Mante yang selalu menghindari kontak dengan masyarakat luar. Terlepas dari ciri-ciri fisiknya, orang Mante adalah manusia juga.

"Jangan usik suku Mante. Mereka itu juga manusia biasa. Mereka punya hak memperoleh kehidupan yang layak," tuturnya.

Menurut Husaini, pemerintah wajib melindungi keselamatan suku terasing seperti mereka. Habitat mereka juga harus dijaga, yakni rimba belantara yang penuh kehidupan.

sumber

Pesan Pengunggah Video Makhluk Kecil di Aceh: Jangan Cari Mereka



Makhluk kecil di belantara hutan Aceh menjadi sorotan setelah tertangkap kamera dari komunitas motor trail. Pengunggah video tersebut, Fredo Pastrana, mengimbau warga tidak mencari makhluk yang menimbulkan banyak spekulasi itu. 

Sejak awal, Fredo memang tidak mencantumkan lokasi persis video itu direkam. Tujuannya agar tidak ada yang mengusik makhluk kecil tersebut. 

"Ternyata ada yang coba-coba mencari detail lokasi, silakan saja. Yang jelas, demi kelestarian dan kesinambungan alam, terpaksa kami diam," tulis Fredo lewat akun Facebook-nya, Selasa (28/3/2017). 

"Carilah Allah, jangan mencari makhluk," sambungnya.

Hingga saat ini, video yang diunggah Fredo di YouTube sudah ditonton lebih dari 2 juta kali. Dia tetap merahasiakan posisinya agar tidak ada rombongan berbondong-bondong mencari makhluk tersebut. 

"Bayangkan jika 2 juta orang ramai berbondong-bondong menuju lokasi, apa yang akan terjadi? Kita masih ingat betul kejadian beberapa tahun lalu ketika terjadi penemuan koin emas dan benda kuno di seputar Kampung Pande, Banda Aceh. Ribuan orang penasaran mendatangi lokasi yang akhirnya justru terjadi penjarahan dan penggalian ilegal terhadap benda-benda kuno yang seharusnya masuk museum Aceh," ungkapnya. 

"Alangkah bijaknya jika kesinambungan dan kelestarian alam dibiarkan berjalan apa adanya. Jangan kita cemari," lanjut Fredo.

Kemunculan makhluk kecil tersebut memang menimbulkan spekulasi. Ada yang menduga kuat itu adalah suku Mante, ada juga dugaan itu adalah Orang Pendek. 

Pemerintah Aceh berencana melakukan penelitian untuk mengetahui keberadaan mereka. Selama ini suku yang hidup di belantara hutan Tanah Rencong itu dianggap tidak ada lagi.

"Kalau nanti ditemukan jawaban ternyata mereka masih eksis, nanti bisa kita minta dipetakan berapa jumlahnya dan berapa sebarannya," kata Kepala Biro Humas Pemerintah Aceh Mulyadi Nurdin. 

sumber

Rencana Aksi 313, Salat Jumat di Istiqlal Kemudian Long March ke Istana



Forum Umat Islam (FUI) akan menggelar aksi pada 31 Maret 2017. Aksi dimulai dengan salat Jumat di Masjid Istiqlal, kemudian mengarah ke Istana Merdeka.

"Saya selaku tokoh agama yang tergabung di FUI akan mengikuti aksi 313, yang dilaksanakan di Masjid Istiqlal dan diikuti dengan jemaah dari berbagai daerah," kata Habib Novel Bamukmin saat dimintai konfirmasi, Senin (27/3/2017).

Menurut informasi, setelah salat Jumat peserta aksi akan mengarah ke Monas dan Istana Merdeka. Mereka kemudian akan menyampaikan aspirasi di depan Istana Merdeka.

"Selesai salat Jumat, akan long march ke depan Istana. Di sana akan menyampaikan aspirasi langsung ke Istana," ujarnya.

Tuntutan aksi ini masih sama seperti aksi sebelumnya. Intinya, mereka meminta Presiden Jokowi memberhentikan Gubernur DKI nonaktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), yang kini berstatus terdakwa kasus penistaan agama.

"Tuntutannya agar gubernur terdakwa segera dipenjarakan dan diberhentikan dari jabatannya," ujar Novel.

"Untuk massanya insyaallah seperti aksi 411," tuturnya. 

sumber

Begini Awal Mula Mbah Sarman Dituding Asusila di Masjidil Haram



Jakarta - Konsuler Konsulat Jenderal RI (KJRI) di Jeddah, Rahmat Aming, menjelaskan awal mula Mbah Sarman tersandung tudingan melakukan tindakan asusila di kompleks Masjidil Haram, Mekah, Arab Saudi.

Berdasarkan pengakuan Mbah Sarman kepada KJRI, sesaat sebelum ditangkap polisi setempat, dia merasa haus dan kebetulan ditawari minum oleh seorang pria saat melewati toilet. Belakangan diketahui, pria tersebut berkewarganegaraan Yaman.

"Katanya dia kehausan dan ditawari minum oleh orang Yaman. Yang (warga Yaman, red) usianya juga sekitar 50-an tahun seingat saya," kata Rahmat ketika berbincang dengan detikcom, Senin (27/3/2017).

Entah bagaimana posisi Mbah Sarman dengan si pria Yaman. Namun seorang polisi intelijen seperti melihat pemilik nama lengkap Sarman Parto Pai ini memegang organ vital pria Yaman tersebut. Polisi itu pun langsung meringkus keduanya.

"Menurut pelapor, Si Mbah terlihat sedang memegang kemaluan warga negara Yaman. Posisinya di toilet dan yang melapor diketahui belakangan sebagai intel polisi," ujar Rahmat.

Rahmat menyampaikan Mbah Sarman dijerat hukum pidana asusila, hukum yang sanksinya berat jika terbukti. Apalagi untuk tindakan homoseksual, hukumannya bisa sampai eksekusi mati.

"Dalam hukum Arab Saudi, (asusila) masuk ke tindak pidana yang cukup berat sanksinya bila terbukti. Yang bersangkutan dituduh melakukan perbuatan menyimpang seksual, yaitu hukuman sesama jenis yang bisa dikenakan hukuman mati," ucap Rahmat. 

sumber

Usia Sepuh, Mbah Sarman Lolos dari Hukuman 80 Kali Cambukan



Sarman (80) divonis bersalah dengan tuduhan asusila oleh pengadilan di Makkah. Mbah Sarman lolos dari hukuman cambuk mengingat usianya yang sudah sepuh.

"Setelah melalui proses hukum yang cukup panjang dan keterangan saksi-saksi, Bapak Sarman divonis hukuman enam bulan kurungan dan 80 kali cambukan," ujar M Hery Saripudin, Konjen RI Jeddah dalam keterangannya, Senin (27/3/2017).

Berdasarkan rilis dari KRJI, Sarman mendekam di penjara hampir 10 bulan. Pemicunya, dia dituduh melakukan hubungan sesama jenis di pelataran basement toilet Masjidil Haram oleh kepolisian setempat. 

"Kasus asusila meliputi hampir 90% kasus WNI yang ditahan di Penjara Mekkah dan Jeddah," ujar Hery.

Hery mengatakan, KJRI Jeddah melalui media yang tersedia selalu menekankan pentingnya menghormati aturan dan budaya Arab Saudi. 

"Henry mengatakan atas upaya Tim KJRI Jeddah dengan pihak mahkamah dan penjara, serta mengingat usia yang sepuh, Bapak Sarman dapat dibebaskan dari hukuman cambukan," kata Hery.

Sarman juga dikeluarkan dari penjara di Mekkah dengan jaminan KJRI dan diperkenankan untuk tinggal di shelter KJRI di penjara. Sarman menetap di penampungan sejak akhir Oktober 2016 selama proses negosiasi berlangsung hingga dirinya dibebaskan. "Meskipun jamaah umroh, kasus Sarman merupakan salah satu bukti kepedulian Pemerintah terhadap WNI di luar negeri tanpa pandang bulu," jelas Rahmat Aming Lasim, case officer yang selama ini menangani kasusnya. 

sumber